Situs Kantor Berita Reuters kembali menjadi korban peretasan oleh
kelompok hacker asal Suriah, Syrian Electronic Army (SEA) pada Minggu
(22/06). Menurut ibtimes.com hal tersebut dilakukan oleh kelompok
tersebut sebagai bentuk protes bagi Reuters yang sering memberitakan
pemberitaan yang salah mengenai negara Suriah.
SEA sendiri adalah
kelompok hacker yang menjadi loyalis Presiden Suriah Bashar al-Assad.
Kelompok ini mengumumkan penyerangan ini melalui aku twitter mereka
@Official_SEA16. Hal ini adalah penyerangan terbuka pertama kali yang
dilakukan oleh tentara virtual di negara Arab.
Pesan yang
dikirimkan oleh SEA adalah Stop publishing fake reports and false
articles about Syria yang berarti ”Hentikan publikasi laporan palsu dan
artikel palsu tentang Suriah”.
Pesan selanjutnya adalah
Pemerintah Inggris Raya mendukung teroris di Suriah untuk menghancurkan
negara ini. Hentikan penyebaran propaganda ini.
Namun menurut ahli
sekuriti kebocoran keamanan ini bukan berasal dari situs Reuters itu
sendiri, tapi terjadi celah karena situs periklanan Taboola. Situs ini
mengiklan pada artikel yang terdapat pada situs Reuters. SEA
memanfaatkan kelemahan pada situs Taboola untuk menyerang situs Reuters.
Pada Minggu lalu, CEO dan pendiri Taboola, Adam Singolda,
memberi pernyataan yang mengatakan bahwa serangan ini menggunakan teknik
phishing.
Pada blognya, Adam Singolda, menulis bahwa pada hari
Minggu pukul 7 hingga 8 pagi, sebuah organisasi yang menamakan dirinya
Syrian Electronic Army meretas aplikasi Taboola yang terdapat pada
Reuters.com.
Penyusup memanfaatkan pengguna untuk mengakses
halaman artikel yang terdapat Reuters.com untuk masuk ke halaman lain
(phishing), ungkap Adam.
Kebocoran ini telah dideteksi sekitar
pukul 7.25 pagi dan telah dihapus pada pukul 8 pagi. Tidak ada aktivitas
yang mencurigakan lainnya sejak saat itu, dan total waktu dari kejadian
ini hanya 60 menit,lanjut Adam.
Terakhir kali Reuters diretas
oleh SEA adalah ketika hacker ini memposting artikel yang salah pada
2012. Artikel palsu tersebut berisi pemberitaan mengenai kematian
Menteri Luar Negeri Arab Saudi Saud al-Faisal. Hal ini mengundang protes
terhadap Reuters melalui media sosial Twitter.
No comments:
Post a Comment