Sebuah studi mengenai penipuan global menemukan fakta dari 6.100
konsumen di 20 negara, 1 dari 4 orang tersebut merupakan korban penipuan
kartu pada lima tahun terakhir ini. Studi yang dilakukan oleh ACI
Worldwide dan Aite Group ini juga menemukan fakta bahwa 23 % persen
mengganti lembaga keuangannya karena ketidakpuasan setelah mengalami
penipuan.
Penipuan kartu sendiri adalah kejahatan pada tiga jenis
pembayaran kartu debit-kredit dan prabayar. Penipuan kartu memiliki
jumlah kerugian yang berbeda-beda dan masing-masing jenis kartu memiliki
bentuk yang berbeda-beda. Uni Emirat Arab adalah negara yang memiliki
tingkat penipuan tertinggi di dunia yaitu sekitar 44 persen, menyusul
Tiongkok dengan 42 persen, di peringkat ketiga adalah India dan Amerika
Serikat dengan 41 persen.
Berdasarkan survei tersebut, 63 persen
dari pengguna kartu pernah menjadi korban penipuan adalah orang yang
menggunakan kartunya. Survei tersebut juga mengungkapkan bahwa 50% dari
pengguna kartu yang sering menunjukan kartunya atau setidaknya pernah
melakukan sekali perbuatan yang beresiko, menjadi orang yang paling
berpotensi menjadi korban penipuan.
Terdapat fakta yang terungkap
dari survei ini bahwa 55% pengguna akan langsung memperbaharui
identitas kartunya jika menjadi korban pencurian identitas. Dan menurut
studi tersebut terdapat lebih dari 1 dari 10 orang yang memiliki
penipuan secara berulang selama lima tahun belakangan.
Menurut
analis senior Aite Group, Shirley Inscoe, survei ini sangat signifikan
karena survei ini memiliki data terbaru. Survei ini dapat dijadikan
acuan bagi lembaga keuangan atau lembaga pemberi layanan kartu.
“Mengingat
ini data terbaru, lembaga keuangan memiliki kecocokan untuk mencegah
penipuan ini, baik dari segi pendidikan dan langkah-langkah pencegahan,”
ungkap Shirley kepada Net Security.
Berdasarkan survei ini juga
menunjukan kekurangan kepercayaan pengguna kartu terdapat kemampuan bank
untuk mengamankan pengguna dari penipuan.
Konsumen kurang
percaya terhadap kemampuan bank mereka untuk memproteksi mereka dari
penipuan, sehingga bank harus tetap waspada dalam upaya penipuan
terhadap pengguna atau akan menghadapi pengurangan pelanggan, lanjut
Shirley.
Semakin sadarnya pengguna terhadap penipuan, membuat
lembaga keuangan atau bank harus memperhatikan jenis kejahatan ini. Hal
ini dapat membuat pengguna kehilangan kepercayaan terhadap lembaga
keuangan atau bank jika tidak segera ditangani.
Konsumen semakin
memperhatikan tentang penipuan, dan telah kehilangan kepercayaan dalam
berbagai level, Senior Vice President ACI Worldwide, Mike Braatz
mengungkapkan.
No comments:
Post a Comment