<p></p><p>Calon Presiden Joko Widodo atau yang akrab
dipanggil Jokowi, mengatakan akan memodernisasi pertahanan siber dan
hibrid jika dirinya terpilih menjadi Presiden RI. Hal ini disampaikan
Jokowi saat debat kandidat Capres-Cawapres RI jilid III yang digelar di
Hotel Holiday Inn, Minggu (23/06). </p><p>Jika terpilih
Jokowi berjanji untuk menerapkan sistem politik luar negeri bebas aktif.
Bagi Jokowi untuk mewujudkan hal tersebut, perlunya untuk membangun
ketahanan nasional dan salah satunya dengan memodernisasi pertahanan
siber dan hibrid. </p><p>Dalam debat yang dimoderatori oleh
Prof. Hikmawanto Juwana kali ini mengangkat tema mengenai Politik
Internasional dan Ketahanan Nasional. Jokowi mengatakan dalam
meningkatkan ketahanan nasional ada tiga hal yang perlu
dilakukan.</p><p>“Pertama, kesejahteraan prajurit
dan keluarganya. Kedua, Perlunya modernisasi alat pertahanan termasuk di
dalamnya pertahanan cyber dan hybrid, dan modernisasi industri
pertahanan ,” Jokowi mengungkapkan. </p><p>Jokowi
yang bukan berasal dari militer mampu menjelaskan mengenai ketahanan
nasional. Jokowi juga mengungkapkan ide mengenai perlunya memperkuat
pertahanan nasional melalui teknologi Drone. Dalam debat tersebut
Jokowi, jika terpilih menjadi Presiden RI, dirinya akan memperkuat
pertahanan RI dengan mempersenjatai TNI dengan alutsista canggih seperti
Drone. </p><p>Jokowi akan membeli tiga Drone untuk
mengawasi kawasan maritim dan akan ditempatkan di tiga kawasan di
sekitar perairan Indonesia. </p><p>Ke depan kita harus punya
Drone pesawat tanpa awak yang dipasang di tiga kawasan. Kita bisa
melihat di mana ada kekayaan maritim kita yang diambil kapal-kapal yang
masuk ke perairan Indonesia, kata Jokowi dalam sela-sela debat kandidat
tersebut. </p><p>Penguatan pertahanan dengan Drone ini
dilakukan akan Jokowi karena berdasarkan data yang diungkapkan olehnya
pada debat kandidat tersebut ada Rp 300 triliun kekayaan yang dimiliki
Indonesia hilang karena adanya <em>illegal
fishing</em>.</p><p>Penguatan pertahanan siber dan
hibrid yang diungkapkan Jokowi ini memang menjadi konsen penting yang
juga harus diperhatikan oleh pemerintah selanjutnya. Mengingat Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan keluarga pernah menjadi korban
penyadapan negara tetangga Australia. </p><p>Indonesia tidak
dapat mempertahankan kedaulatan negaranya, karena kelemahan pertahanan
siber yang dimiliki oleh Indonesia. Semakin majunya perkembangan
teknologi saat ini pertahanan negara, bukan hanya bersifat fisik namun
juga pertahanan siber.</p>
Sumber: yahoo
No comments:
Post a Comment